🎉 Diskon hingga 15% semua kelas Sekolah Stata! Presale & Early Bird
Hari kedua In House Training Sekolah Stata membahas cara menerapkan analisis kausal pada kebijakan digital Indonesia. Peserta belajar menggunakan pendekatan causal inference dan quasi-eksperimen untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan digital berbasis data. Sesi ini memperkuat kemampuan peserta dalam memahami hubungan sebab-akibat dalam kebijakan publik di era digital.

In House Training Hari Kedua: Menerapkan Analisis Kausal pada Kebijakan Digital Indonesia

Call for Papers: Asyafina Journal – Jurnal Akademi Pesantren

Call for Papers: Asyafina Journal – Jurnal Akademi Pesantren

All articles can be downloaded free of charge

Informasi Lengkap

Jakarta, 15 Oktober 2025 – Memasuki hari kedua In House Training (IHT), kolaborasi antara Sekolah Stata dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) semakin mendalam dengan fokus pada praktik penerapan analisis kausal menggunakan data nyata kebijakan digital nasional.

Setelah pada hari pertama peserta mempelajari dasar teori dan fondasi kuasi-eksperimen, kini mereka beralih ke tahap yang paling ditunggu: praktik analisis data langsung menggunakan Stata dengan studi kasus kebijakan digital Indonesia.

Fokus Hari Kedua: Dari Teori ke Praktik Analisis Data

Pelatihan hari kedua dirancang untuk membawa peserta memahami penerapan metode ekonometrika secara konkret dalam mengukur dampak kebijakan digital.

Para instruktur Sekolah Stata membimbing peserta menjalankan analisis menggunakan data empiris dengan tiga metode utama: Instrumental Variable (IV), Propensity Score Matching (PSM), dan Difference in Difference (DiD).

Sesi 1: Instrumental Variable (IV) – Dampak Biaya Spektrum terhadap PDRB Bersama Muhammad Irsyad Hawari, S.E., M.A.

Sesi pagi dibuka oleh Muhammad Irsyad Hawari, S.E., M.A. yang memandu praktik Instrumental Variable (IV) dengan studi kasus “Dampak Biaya Spektrum terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)”.

Melalui pendekatan ini, peserta diajak memahami bagaimana kebijakan pengelolaan biaya spektrum telekomunikasi memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah.

Irsyad menjelaskan langkah demi langkah mulai dari pemilihan instrumen, estimasi model, hingga interpretasi hasil.

“Kita perlu memastikan instrumen yang kita pilih benar-benar relevan dan valid, tidak hanya secara statistik, tapi juga secara ekonomi,” kata Irsyad sambil mendemonstrasikan analisisnya di Stata.

Sesi ini membuka wawasan peserta tentang bagaimana metode IV mampu mengatasi masalah endogenitas dalam model kebijakan publik.

Hari kedua In House Training Sekolah Stata membahas cara menerapkan analisis kausal pada kebijakan digital Indonesia. Peserta belajar menggunakan pendekatan causal inference dan quasi-eksperimen untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan digital berbasis data. Sesi ini memperkuat kemampuan peserta dalam memahami hubungan sebab-akibat dalam kebijakan publik di era digital.
Hari kedua In House Training Sekolah Stata membahas cara menerapkan analisis kausal pada kebijakan digital Indonesia. Peserta belajar menggunakan pendekatan causal inference dan quasi-eksperimen untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan digital berbasis data. Sesi ini memperkuat kemampuan peserta dalam memahami hubungan sebab-akibat dalam kebijakan publik di era digital.

Sesi 2: Propensity Score Matching (PSM) – Dampak Infrastruktur Digital terhadap Perekonomian Lokal Bersama Muhammad Irsyad Hawari, S.E., M.A.

Setelah pemahaman IV, sesi berikutnya masih dibawakan Irsyad yang membahas Propensity Score Matching (PSM) dengan studi kasus “Dampak Infrastruktur Digital terhadap Perekonomian Lokal”.

Peserta diajak membandingkan wilayah dengan dan tanpa infrastruktur digital dengan karakteristik serupa guna menilai perbedaan dampak ekonomi.

“Metode PSM sangat cocok untuk penelitian yang tidak dapat dilakukan secara eksperimental. Ini membantu menemukan pasangan observasi yang mirip agar hasilnya lebih kredibel,” jelas Irsyad.

Peserta juga belajar pemilihan variabel pembentuk skor kecenderungan, menjalankan algoritma matching, dan menilai keseimbangan data (balance test).

Artikel Blog Sekolah Stata di indeks Oleh Google Scholar

Akses Google Scholar

Sesi 3: Difference in Difference (DiD) – Transformasi Digital Banking dan Ekonomi Lokal Bersama Pangudi Jatirahardi, S.E. dan Muhammad Irsyad Hawari, S.E., M.A.

Sesi sore berlanjut dengan praktik Difference in Difference (DiD), metode umum untuk mengevaluasi dampak kebijakan yang diterapkan pada dua periode waktu berbeda.

Dua studi kasus dibahas: 1) Transformasi Digital Banking terhadap Efisiensi Transaksi dan Profitabilitas oleh Pangudi Jatirahardi, dan 2) Dampak Pembangunan Menara BTS terhadap Ekonomi Lokal oleh Irsyad.

Pangudi memaparkan bagaimana DiD mengukur perubahan kinerja ekonomi bank sebelum dan sesudah transformasi digital dengan kelompok pembanding yang relevan.

“DiD adalah cara sederhana tapi kuat untuk memastikan perubahan yang terlihat benar-benar hasil kebijakan, bukan tren waktu saja,” jelas Pangudi.

Sementara itu, sesi Irsyad membahas bagaimana membangun model DiD, melakukan analisis pre-post, dan menginterpretasi koefisien dampak kebijakan.

Integrasi Analisis dan Rekomendasi Kebijakan

Hari kedua tidak hanya membahas aspek teknis, tetapi juga bagaimana hasil analisis diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan.

Instruktur menekankan bahwa menghubungkan hasil statistik dengan konteks ekonomi dan sosial adalah inti riset kebijakan digital berdampak.

“Analisis data adalah langkah awal, tantangan sebenarnya adalah menyampaikan hasil agar bisa jadi dasar keputusan yang lebih baik,” ujar Irsyad.

Dari Pelatihan Menuju Kebijakan Berbasis Bukti

Kolaborasi Komdigi dan Sekolah Stata jadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam memperkuat evidence-based policy di sektor digital Indonesia. Peserta tidak hanya belajar teori, tapi juga dilatih berpikir kritis terhadap data, peka terhadap bias, dan terampil interpretasi hasil.

Hari kedua ditutup dengan diskusi terbuka, peserta berbagi pengalaman dan refleksi praktik yang menambah wawasan. Antusiasme tinggi membuktikan pendekatan berbasis studi kasus nyata terbukti efektif dalam membangun kapasitas riset instansi pemerintah.

Tentang Komdigi

Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) bertanggung jawab mengelola komunikasi publik, infrastruktur digital, dan keamanan serta ekonomi digital nasional. Komdigi menjadi garda terdepan mewujudkan Indonesia Digital 2045 lewat kebijakan inklusif dan berbasis data.

Tentang Sekolah Stata

Sekolah Stata adalah platform edutech riset dan data analytics yang fokus pada pelatihan statistik terapan, ekonometrika, dan analisis kebijakan publik dengan menggunakan perangkat Stata, R, dan Python. Komitmen kami adalah mendukung pengambilan kebijakan berbasis bukti di Indonesia melalui pembelajaran riset aplikatif dan relevan.

Scroll to Top