🎉 Diskon hingga 15% semua kelas Sekolah Stata! Presale & Early Bird
Peserta dan fasilitator Sekolah Stata berfoto bersama di ruang kelas modern selama kegiatan pelatihan.

Pengajar Sekolah Stata Mengikuti Pre-Conference IRSA 2026: Dari Quasi-Experiment, Spatial Econometrics, sampai ILAS 2023

🔥 Jangan Lewatkan: Kelas IFLS Lanjutan Batch 8 🚀

Tanggal: 22 July 2026 | Investasi: Hanya 350k! 🌟

Gabung sekarang dan tingkatkan keterampilan Anda dengan praktisi terbaik! 📊💡

Daftar Sekarang 🔗
Do file 📘 Belajar Analisis Kemiskinan Selama Pandemi COVID-19 dengan STATA

Do file 📘 Belajar Analisis Kemiskinan Selama Pandemi COVID-19 dengan STATA

Rp 10000

Informasi Lengkap

Pengajar Sekolah Stata Mengikuti Pre-Conference IRSA 2026: Dari Quasi-Experiment, Spatial Econometrics, sampai ILAS 2023

Kalau sobat stata lagi cari kabar yang benar-benar segar dari dapur Sekolah Stata, ini salah satu yang paling seru: para pengajar Sekolah Stata ikut hadir dalam rangkaian pre-conference IRSA 2026 yang diselenggarakan bersama Universitas Lampung pada 4 dan 5 Juli 2026. Buat kita yang hidup di dunia riset, momen seperti ini bukan sekadar acara formal. Ini semacam ruang pengisian ulang baterai intelektual. Tempat di mana ide-ide tajam bertemu, metode baru dikenalkan, dan cara pandang kita terhadap data ikut naik kelas.

Peserta dan fasilitator Sekolah Stata berfoto bersama di ruang kelas modern selama kegiatan pelatihan.
Dokumentasi kegiatan Pre-Conference IRSA 2026

Tim Sekolah Stata yang terlibat kali ini terdiri dari Muhammad Abdul Rohman selaku direktur utama, Irsyad Hawari yang juga pengajar sekaligus eksekutif direktur Transdisiplin, Muhammad Khoiron Azis dari HRD, dan Yuka Anugrah sebagai pengajar Sekolah Stata. Mereka mengikuti workshop yang berbeda-beda, tapi semuanya punya benang merah yang sama: memperdalam cara membaca data untuk menjawab persoalan kebijakan dan riset dengan lebih serius. Nah, sobat stata, di sinilah letak menariknya. Bukan cuma hadir, tapi benar-benar menyerap ilmu yang relevan dengan kebutuhan riset hari ini.

Kenapa Pre-Conference IRSA 2026 Layak Disorot?

Pre-conference IRSA itu seperti ruang pemanasan sebelum pertandingan utama. Tapi jangan salah, justru di sesi pemanasan ini sering muncul insight paling berharga. Kenapa? Karena workshop biasanya lebih praktis, lebih fokus, dan lebih dekat dengan problem yang nyata. Kalau konferensi utama itu panggung besar, pre-conference adalah bengkel kerja. Di sana sobat stata bisa melihat “mesin” metode riset dibongkar satu per satu: bagaimana sebuah strategi identifikasi dibangun, kapan data spasial benar-benar bicara, dan bagaimana survei longitudinal dipakai untuk membaca perubahan hidup manusia dari waktu ke waktu.

Itulah alasan mengapa kehadiran pengajar Sekolah Stata di IRSA 2026 penting. Sekolah Stata bukan cuma tempat belajar software atau teknik analisis, tetapi juga ekosistem yang terus menjaga relevansi dengan perkembangan riset terbaru. Kalau dunia riset bergerak cepat, maka pengajar yang baik harus ikut lari, bukan berdiri di pinggir lapangan. Dan di sinilah nilai dari pre-conference ini: mempertemukan pengetahuan teoritis dengan praktik riset mutakhir.

Siapa Saja yang Ikut dan Workshop Apa yang Diambil?

Rangkaian workshop pre-conference IRSA 2026 ini terbagi menjadi tiga kelas utama, dan masing-masing pengajar Sekolah Stata memilih jalur yang paling sesuai dengan peran dan minat riset mereka.

Irsyad Hawari mengikuti workshop Introduction to Quasi-Experiment Policy Impact Evaluation dari ANU Indonesia Project. Sementara itu, Muhammad Abdul Rohman dan Yuka Anugrah mengikuti workshop Next-Generation Spatial Econometrics for Policy Analysis: From Exploratory Spatial Data to Causal Inference and Network Spillovers yang diselenggarakan oleh ITERA dan Universitas Lampung. Lalu Muhammad Khoiron Azis bergabung dalam workshop Introduction to Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS) 2023 oleh SurveyMeter.

Kalau dilihat sekilas, ketiganya berbeda. Tapi kalau ditarik ke bawah, semuanya bicara soal satu hal: bagaimana data dipakai untuk memahami manusia dan kebijakan secara lebih tepat. Quasi-experiment bicara soal dampak kebijakan. Spatial econometrics bicara soal efek yang menyebar antarwilayah dan jaringan. ILAS 2023 bicara soal kehidupan lansia Indonesia dari waktu ke waktu. Tiga arah, satu tujuan: riset yang lebih tajam, lebih berguna, dan lebih bertanggung jawab.

Irsyad Hawari dan Dunia Quasi-Experiment

Buat sobat stata yang sering bergelut dengan evaluasi kebijakan, workshop quasi-experiment itu ibarat membuka kotak alat yang isinya bukan palu dan obeng, melainkan logika kausal. Di kelas Introduction to Quasi-Experiment Policy Impact Evaluation, Irsyad Hawari belajar bagaimana mengukur dampak kebijakan ketika eksperimen acak murni tidak memungkinkan. Ini penting sekali, karena dalam dunia nyata kita jarang punya kondisi ideal. Pemerintah tidak selalu bisa membagi perlakuan secara acak. Peneliti pun harus cerdik mencari desain yang masuk akal agar hasilnya tetap bisa dipercaya.

Di sinilah quasi-experiment menjadi andalan. Ia seperti jembatan yang menghubungkan dunia ideal dan dunia nyata. Dengan pendekatan ini, peneliti bisa mendekati pertanyaan besar: apakah program benar-benar berdampak, atau cuma terlihat bagus di permukaan? Apakah perubahan yang terjadi memang karena kebijakan, atau karena faktor lain yang kebetulan ikut bergerak? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bikin riset kebijakan jadi hidup, dan workshop ini jelas memberi amunisi baru untuk itu.

Bagi Sekolah Stata, bekal seperti ini sangat berharga. Kenapa? Karena banyak peserta kelas dan pembaca kami datang dari latar belakang yang ingin menilai program pendidikan, sosial, kesehatan, atau ekonomi. Mereka butuh metode yang tidak hanya cantik di atas kertas, tapi juga tahan banting saat bertemu data yang berantakan. Quasi-experiment menjawab kebutuhan itu.

Muhammad Abdul Rohman dan Yuka Anugrah di Spatial Econometrics

Kalau quasi-experiment adalah alat untuk melihat dampak kebijakan, maka spatial econometrics adalah cara untuk memahami bahwa data tidak selalu diam di tempat. Kadang data itu menular, meluber, dan saling memengaruhi antarwilayah. Harga rumah di satu daerah bisa berkaitan dengan daerah tetangga. Program pembangunan di satu kabupaten bisa punya efek ke kabupaten sebelah. Bahkan perilaku sosial bisa menyebar lewat jaringan. Sobat stata, inilah dunia yang tidak bisa dijelaskan oleh model biasa saja.

Muhammad Abdul Rohman dan Yuka Anugrah mengikuti workshop Next-Generation Spatial Econometrics for Policy Analysis: From Exploratory Spatial Data to Causal Inference and Network Spillovers karena topiknya sangat relevan dengan riset modern. Workshop ini seperti undangan untuk melihat data dari sudut pandang baru. Bukan hanya “apa yang terjadi?”, tetapi juga “di mana terjadinya?”, “siapa yang terpengaruh?”, dan “efek itu menyebar ke mana lagi?”.

Bayangkan sobat stata sedang melempar batu ke danau. Yang terlihat bukan cuma titik jatuhnya, tapi juga gelombang yang menyebar ke segala arah. Nah, itulah kira-kira cara kerja analisis spasial. Ia membantu kita memahami bahwa suatu kejadian tidak selalu berdiri sendiri. Ada jejak di sekitar, ada resonansi, ada spillover. Dan justru di situlah kebijakan bisa dibaca lebih cerdas. Tidak semua masalah ekonomi, pendidikan, atau kesehatan berhenti di batas administrasi. Banyak di antaranya bergerak lintas wilayah dan lintas jaringan.

Dengan ikut workshop ini, tim Sekolah Stata memperkuat kapasitas untuk membahas riset wilayah, kebijakan daerah, dan analisis kausal yang makin dibutuhkan di era data besar. Ini bukan sekadar tambah ilmu. Ini investasi metodologis.

Muhammad Khoiron Azis dan ILAS 2023: Membaca Penuaan Secara Lebih Manusiawi

Di sisi lain, Muhammad Khoiron Azis mengikuti workshop Introduction to Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS) 2023. Topik ini mungkin terdengar lebih spesifik, tapi justru sangat penting. Indonesia sedang bergerak menuju masyarakat yang menua. Itu artinya, isu kesehatan, kesejahteraan, dukungan sosial, dan kualitas hidup lansia akan semakin relevan dalam riset dan kebijakan publik.

ILAS 2023 memberi pintu masuk untuk memahami proses penuaan secara longitudinal. Itu keren, sobat stata, karena data longitudinal seperti kamera yang memotret satu orang berkali-kali sepanjang waktu. Kita bisa melihat perubahan, bukan cuma potret sesaat. Kita bisa memahami bagaimana kesehatan memburuk atau membaik, bagaimana dukungan keluarga berubah, dan bagaimana kondisi sosial-ekonomi membentuk perjalanan hidup seseorang.

Artikel Blog Sekolah Stata di indeks Oleh Google Scholar

Akses Google Scholar

Workshop ini penting bukan hanya untuk peneliti kesehatan atau demografi. Bagi banyak bidang, data longitudinal adalah harta karun. Ia mengajarkan kita bahwa manusia tidak statis. Orang berubah, rumah tangga berubah, keputusan berubah. Dan riset yang bagus harus cukup sabar untuk mengikuti perubahan itu. Itulah yang dikejar oleh Khoiron Azis dalam workshop ILAS 2023: kemampuan membaca dinamika, bukan sekadar angka diam.

Apa Makna Kehadiran Ini buat Sekolah Stata?

Keikutsertaan tim Sekolah Stata dalam pre-conference IRSA 2026 bukan hanya soal hadir di acara besar. Ini tentang posisi. Sekolah Stata ingin tetap berdiri di garis depan pembelajaran riset yang serius, relevan, dan up-to-date. Kalau pengajar kita terus belajar, maka peserta kelas juga ikut merasakan dampaknya. Materi jadi lebih tajam. Penjelasan jadi lebih hidup. Contoh kasus jadi lebih dekat dengan kebutuhan lapangan.

Lebih dari itu, kehadiran di forum seperti IRSA menunjukkan bahwa Sekolah Stata tidak sekadar mengajar teknik, tapi juga merawat ekosistem berpikir. Kita ingin sobat stata bukan cuma bisa klik menu software, tetapi paham mengapa metode tertentu dipilih, kapan hasilnya sah, dan di mana batas interpretasinya. Karena riset yang baik bukan soal tampil pintar, melainkan soal jujur terhadap data.

Jadi ketika para pengajar kembali dari IRSA 2026, mereka bukan pulang dengan tas yang lebih berat saja. Mereka pulang dengan perspektif yang lebih luas, referensi yang lebih tajam, dan semangat baru untuk berbagi. Dan itu, sobat stata, adalah kabar baik untuk semua yang belajar bersama Sekolah Stata.

Pelajaran untuk Sobat Stata yang Sedang Menekuni Riset

Ada pelajaran penting dari perjalanan ini. Riset itu tidak pernah selesai. Setiap workshop, konferensi, dan diskusi adalah pintu ke ruangan lain yang sebelumnya belum kita buka. Hari ini belajar quasi-experiment, besok spatial econometrics, lusa data longitudinal. Begitulah riset tumbuh: seperti pohon, pelan tapi terus membesar.

Kalau sobat stata sedang belajar, jangan puas hanya pada satu metode. Dunia nyata terlalu rumit untuk disederhanakan oleh satu alat saja. Kadang Anda butuh desain kausal. Kadang Anda butuh analisis spasial. Kadang Anda butuh data panel atau longitudinal. Yang penting bukan menghafal semua metode, melainkan tahu kapan dan mengapa metode itu dipakai. Di situlah rasa riset bertemu dengan ketelitian.

Dan satu lagi: jangan takut ikut ruang belajar yang lebih besar dari kemampuan Anda saat ini. Justru dari situlah loncatan sering lahir. Banyak peneliti hebat bukan karena mereka selalu paling tahu, tapi karena mereka berani masuk ke ruang yang membuat mereka bertanya lebih banyak. Pertanyaan yang baik sering lebih berharga daripada jawaban yang cepat.

Yuk, Lanjutkan Belajarnya di Kelas IBS Sekolah Stata

Kalau sobat stata merasa topik ini menarik dan ingin naik level dalam memahami data, metode, dan riset kebijakan, Sekolah Stata punya jalur belajar yang bisa membantu Anda bertumbuh lebih terstruktur. Salah satunya adalah Kelas IBS yang dirancang untuk menemani proses belajar riset dengan lebih runtut, lebih praktis, dan lebih dekat dengan kebutuhan akademik maupun profesional.

Belajar riset itu seperti naik gunung. Bisa saja jalan sendiri, tapi akan jauh lebih aman kalau ada pemandu dan jalur yang jelas. Kelas yang tepat bisa jadi kompas. Ia membantu Anda membaca peta, memilih rute, dan menghindari langkah yang bikin tersesat. Kalau sobat stata siap melangkah, klik tombol di bawah ini dan gabung sekarang.

Gabung Kelas IBS

Kesimpulan

Pre-conference IRSA 2026 memberi sinyal yang jelas: riset yang kuat lahir dari pembelajaran yang terus bergerak. Kehadiran Irsyad Hawari, Muhammad Abdul Rohman, Yuka Anugrah, dan Muhammad Khoiron Azis bukan sekadar daftar nama peserta. Itu adalah bukti bahwa Sekolah Stata serius menjaga kualitas pengajar, memperluas wawasan, dan memperbarui cara pandang terhadap data.

Bagi sobat stata, ini pengingat bahwa belajar riset itu bukan sprint pendek, melainkan perjalanan panjang. Kadang kita belajar dari buku, kadang dari data, kadang dari forum seperti IRSA. Dan setiap kali kita bertemu metode baru, sebenarnya kita sedang memperluas cara kita memahami dunia. Jadi, teruslah belajar, teruslah bertanya, dan jangan takut naik level. Karena riset yang baik selalu dimulai dari rasa ingin tahu yang tidak cepat puas.

FAQ

1. Apa itu pre-conference IRSA 2026?

Pre-conference IRSA 2026 adalah rangkaian workshop dan pelatihan sebelum konferensi utama IRSA, yang tahun ini digelar bersama Universitas Lampung pada 4 dan 5 Juli 2026.

2. Siapa saja pengajar Sekolah Stata yang ikut?

Yang ikut adalah Muhammad Abdul Rohman, Irsyad Hawari, Muhammad Khoiron Azis, dan Yuka Anugrah.

3. Workshop apa yang diikuti Irsyad Hawari?

Irsyad Hawari mengikuti Introduction to Quasi-Experiment Policy Impact Evaluation dari ANU Indonesia Project.

4. Mengapa spatial econometrics penting untuk riset kebijakan?

Karena banyak fenomena kebijakan tidak berhenti di satu lokasi. Ada efek antarwilayah dan jaringan yang perlu dianalisis agar hasil riset lebih akurat.

5. Bagaimana cara gabung Kelas IBS Sekolah Stata?

Silakan klik tombol Gabung Kelas IBS pada artikel ini atau kunjungi https://sekolahstata.com/kelas-ibs untuk info selengkapnya.

Scroll to Top