🎉 Diskon hingga 15% semua kelas Sekolah Stata! Presale & Early Bird

Isu Terkini Penggunaan SEM-PLS: Jangan Salah Pakai Metode, Sobat Stata

Open Access Policy Brief dan PPT Webinar Webinar “Melihat Indonesia dari Angkasa: Mudik, Ekonomi Lokal dan Kualitas Udara”

Open Access Policy Brief dan PPT Webinar Webinar “Melihat Indonesia dari Angkasa: Mudik, Ekonomi Lokal dan Kualitas Udara”

Rp 300.000

Informasi Lengkap

Isu Terkini Penggunaan SEM-PLS: Jangan Salah Pakai Metode, Sobat Stata

Halo sobat stata 👋. Dalam beberapa tahun terakhir, Structural Equation Modeling – Partial Least Squares atau SEM-PLS menjadi salah satu metode yang paling sering muncul di skripsi, tesis, disertasi, hingga artikel jurnal. Namun, popularitas ini justru memunculkan persoalan baru: SEM-PLS sering dipakai, tetapi tidak selalu dipahami.

Artikel ini membahas isu terkini penggunaan SEM-PLS (2024–2025), termasuk kritik reviewer, tren metodologis global, dan kesalahan fatal yang sering membuat riset ditolak. Artikel ini disusun dengan gaya Sekolah Stata: lugas, berbasis logika riset, dan relevan untuk peneliti Indonesia.

1. SEM-PLS Terlalu Sering Dipakai Karena Dianggap Mudah

Salah satu isu terbesar saat ini adalah overuse SEM-PLS. Banyak peneliti memilih PLS bukan karena cocok secara metodologis, tetapi karena:

  • Sampel kecil
  • Data tidak normal
  • Ingin “aman” dari asumsi statistik

Padahal, SEM-PLS bukan metode darurat. Secara filosofi, PLS dikembangkan untuk tujuan prediksi, bukan untuk sekadar menguji teori mapan.

2. Perdebatan PLS-SEM vs CB-SEM Semakin Tegas

Diskursus global saat ini semakin tegas membedakan PLS-SEM dan CB-SEM. Reviewer jurnal internasional tidak lagi menerima alasan normatif seperti “data tidak normal” atau “sampel terbatas”.

Intinya sederhana:

  • Jika tujuan riset adalah konfirmasi teori → CB-SEM
  • Jika tujuan riset adalah prediksi dan eksplorasi → PLS-SEM

3. Kesalahan Spesifikasi Konstruk: Reflective vs Formative

Kesalahan klasik yang masih sering terjadi adalah salah menentukan jenis konstruk. Banyak peneliti:

  • Menjadikan semua variabel sebagai reflective
  • Tidak memberikan justifikasi teoritis
  • Tidak menguji multikolinearitas pada konstruk formative

Dalam SEM-PLS modern, kesalahan spesifikasi ini bukan lagi kesalahan kecil, tetapi alasan kuat untuk desk reject.

Baca Juga: Google Spreadsheet for Administration (Eksklusif IHT Kemendasmen 10 dan 13 Desember 2025)

4. Goodness of Fit dalam PLS-SEM Masih Diperdebatkan

Berbeda dengan CB-SEM, PLS-SEM tidak dirancang untuk mengejar global goodness of fit. Namun, banyak peneliti masih memaksakan indeks seperti:

  • SRMR
  • NFI
  • GoF index

Tren terbaru menegaskan bahwa evaluasi PLS-SEM seharusnya fokus pada:

Artikel Blog Sekolah Stata di indeks Oleh Google Scholar

Akses Google Scholar
  • R2
  • Q2
  • Effect size (f2)
  • Prediksi out-of-sample (PLSpredict)

5. Pergeseran Besar ke Prediction-Oriented Research

Isu penting lainnya adalah pergeseran paradigma riset. SEM-PLS kini semakin diarahkan untuk:

  • Prediksi perilaku
  • Policy targeting
  • Forecasting sosial dan bisnis

Jika SEM-PLS hanya digunakan untuk melihat signifikansi jalur tanpa kemampuan prediksi, maka nilai ilmiahnya semakin dipertanyakan.

Baca Juga: Dari Data Kacau Jadi Insight Keren: Tutorial SEM PLS untuk Pemula

6. Integrasi SEM-PLS dengan Machine Learning

Tren mutakhir menunjukkan bahwa SEM-PLS mulai dikombinasikan dengan pendekatan machine learning. Pola yang muncul:

  • SEM-PLS → membangun struktur teoritis
  • Machine Learning → menguji performa prediksi

Dengan pendekatan ini, SEM-PLS tidak ditinggalkan, tetapi ditempatkan ulang secara lebih tepat.

7. Transparansi dan Replikasi Jadi Tuntutan Baru

Reviewer kini menuntut transparansi penuh dalam studi SEM-PLS, termasuk:

  • Pengaturan algoritma
  • Skema bootstrapping
  • Penanganan missing data

Tanpa pelaporan yang jelas, hasil SEM-PLS dianggap sulit direplikasi dan kurang kredibel.

8. Konteks Indonesia: Populer Tapi Semakin Berisiko

Di Indonesia, SEM-PLS masih sangat populer dan relatif aman di jurnal nasional. Namun, untuk target jurnal internasional bereputasi, risiko penolakan semakin tinggi jika:

  • Tujuan riset tidak jelas prediktif
  • Tidak ada justifikasi pemilihan PLS
  • PLS dipakai hanya karena “praktis”

Penutup: Jangan Jadikan SEM-PLS Jalan Pintas

Sobat stata, SEM-PLS bukan metode yang salah. Yang bermasalah adalah cara dan alasan penggunaannya. Di era sekarang, SEM-PLS harus diposisikan sebagai alat prediksi berbasis teori, bukan sekadar pelarian dari asumsi statistik.

Jika kamu ingin menggunakan SEM-PLS, pastikan satu hal: metode ini menjawab pertanyaan risetmu, bukan hanya mempermudah analisismu.

Jika kamu ingin pendalaman lebih lanjut, Sekolah Stata akan membahas topik ini secara teknis dan praktis dalam kelas dan konten lanjutan. Stay critical, stay statistical 🚀

Scroll to Top